12 Rabiul Awal 1431H

maulid_mr_2

Hari ini adalah kelahiran sang Nabi besar Sayiddina Muhammad SAW, pagi hari sekitar pukul 06.15 berangkat dari rumah menuju silang monas untuk dizikir djalalah.. setibanya di silang monas sekitar pukul 07.15 begitu padat jamaah yang berdatangan hingga berdesak2an di pintu masuk nya, ternyata yang membuat kepadatan tersebut adalah PASPAMPRES yang menjaga kemanan di pintu, di periksa semua barang bawaan mulai dari tas lalu pemeriksaan hingga ke seluruh tubuh dengan metal detector.

Setelah lolos dari antrian padatanya jamaah langsung berjalan menuju area tempat berkumpulnya jamaah, tp kali ini agak beda tempatnya rada jauh juga dari biasanya dzikir djalalah di monas, kali ini lebih dekat ke arah statiasiun gambir mungkin supaya benar2 pas jamaah menghadap ke kiblat bertepatan dengan membelakangi matahari terbit, sekitar pukul 07.30 terlihat awan di angkasa mulai membentuk lafadz ALLAH begitu indah akan tetapi hanya sesaat kurang lebih 10menit bertepatan dengan datangnya guru mulia Al Habib Munzir Al Musawa

Acara maulid pun di mulai dengan pembacaan maulid adiba’i dan qosidah shalawat junjungan Nabi Muhammad SAW, tak lama Bpk Presiden H. SBY pun datang dan langsung di singkat ke pembcaan asryakal jamaah semuanya berdiri sebagaimana biasanya, setelah itu Habib Munzir menyampaikan ceramah tentang lahirnya Rasulullah yang di lahirkan tepat pada pagi hari ini, ketika Rasulullah lahir ke dunia ini langsung dalam keadaan bersujud dan sujud inilah yang sedekat2nya manusia dengan ALLAH, semua alam semesta menyambut ke lahiran sang Nabi matahari sudah terbit walaupun belum masuk waktu subuh, patung besar di makkah tiba2 tumbang seolah2 bersujud dengan hidung patung tersebut menyentuh bumi, dan api yang selalu di sembah selama ribuan tahun yg tak pernah padam saat itu juga padam dengan sendirinya. Habib Munzir terus bercerita kelembutan2 Nabi Muhammad tak ada manusia sesempurna Nabi, lalu hingga bercerita ketika Nabi mulai kurang sehat dan detik2 sebelum wafatnya Sayiddina, tak terasa air mata ini menetes di kain sarung :( yang tak tega mendengar Sayiddina begitu kesakitannya hingga Beliau wafat tak ada satu orang sahabat Beliau yang tega menutup liang kuburnya dengan tanah sehingga tanah itu berjatuhan sendiri menutup liang kubur Sayiddina dan sahabat hanya meratakannya saja, semakin cintanya hamba mu ini ya ALLAH dengan Nabi Muhammad untuk menjadi tauladan dalam kehidupan sehari2, semoga jakarta menjadi kota Sayiddina Muhammad agar penuh cinta dan damai.

Tinggalkan Balasan